oleh : Juliana Dian Komala Sari
“besok
ya kak kami daftar, ada sertifikatnya kak?,” hampir semua perkataan serupa ini
yang kudapatkan kala brosur Rapat dan Pawai Akbar kuberikan pada setiap orang
yang berlalu lelang di kampusku. Sertifikat?? Sangat memalukan, mahasiswa yang
harusnya menjadi agen of change hanya menginginkan sertifikat?
Ada
juga beberapa yang tampak antusias mendengarkan kala kujelaskan, adapula yang
acuh tak acuh bahkan ada yang berkata kasar dan mengejek . uh kesal? Tentu,
namun kembali kumelihat sirah perjuangan Rasulullah SAW, bukan hanya cemoohan
yang beliau hadapi teteapi hujatan senjata yang beliau tantangi.
Telah
berpuluh orang kutemui dan kukontak, namun tiada satupun yang tertarik untuk
mengikuti agenda besar ini, maklum mahasiswa memang banyak yang apatis, sedih
rasanya. Tapi suatu ketika saat perkuliahan libur kusempatkan waktu berkeliling
kota pekanbaru dengan teman seperhalaqohanku, jam telah menunjukan pukul 12.00
namun belum ada satupun peserta yang kami dapatkan, akhirnya kami sepakat untuk
beristirahat sambil menunggu zuhur di sebuah mesjid yang lumayan cantik, bersih
dan cukup besar, jamaahnya juga ramai, tak hanya warga pekanbaru saja bahkan
dari luar kota.
Selang
beberapa menit setelah zuhur, kami mulai mendatangi satu persatu jamaah, ramah
dan antusias yang kami dapatkan. 1,2,3,4,5, pancaran bahagia terpancar dari
raut wajah kami saat kuhitung jumlah tiket yang telah bertuliskan nama peserta.
“buk,
sedang apa? Maaf menganggu,” ujarku memulai pembicaran dengan seorang ibu yang
kukira umurnya mencapai setengah abad, ia menggunakan kaos kuning lusuh, iapun
tampak letih, dengan pelan ia menjawab “sedang istirahat nak, ibuk bawa anak
lumpuh untuk ngemis,” ungkapnya miris. “ibuk tau khilafah? Khilafah itu sistem
islam, seperti pada zaman rasulullah, kalau khilafah itu tegak tak ada lagi
yang namanya pengemis, semuanya sejahtera, jadi kami dari hizbut tahrir
indonesia, ada agenda besar buk, hari minggu disana nanti kita menyuarakan
tegaknya khilafah..........,” bla bla bla, panjang lebar kujelaskan pada ibuk
yang duduk di teras mesjid itu, ia tampak antusias lalu ia berkata “ibu harus
kerja setiap hari nak, ibu cuman bisa do’akan acaranya sukses, supaya ibu nggak
ngemis lagi,” katanya lemah.
Pukul
14.30 WIB, kami beranjak menuju Mesjid Agung An-Nur, dimana akan diadakan acara
RPA, lagi-lagi kutemui seorang ibu paruh baya, dengan tatapan kosong ia
memperhatikan anaknya yang berlari kesana kemari, kami datangi ibu itu, cerita
punya cerita, ibu itu merupakan seorang
tukang parkir, ia telah lama ditinggalkan suaminya, anaknya 3 orang, SMA,SMP
dan yang paling kecil SD. “kalau lagi suntuk, ibuk sering kesini, menghibur si
kecil, kasian dia masih kecil hidup kayak gini,” ya Allah, teriris rasanya hati
mendengar ocehan ibu ini, ku jelaskan juga tujuan kami, ibu ini juga
antusia,namun karena pekerjaannya sebagai tukang parkir yang tak menentu
membuatnya juga tak bisa hadir.
Hari-hari
berlalu begitu cepat, H-1 tiba, kami berkumpul bersama syabab lainnya untuk
melaksanakan Gladi bersih, semuanya berjalan lancar, tak sabar rasanya menanti
esok hari.
Allahuakbar..Allahuakbar...
riuh terdengar puluhan ribu umat menyuarakan takbir, orasi demi orasi
tersampaikan dengan lancar, peserta benar-benar antusias. Jangan salah kaprah
semangat yang bergelora bukan saja terpancar dari peserta remaja, tapi juga
dari peserta yang sudah berumur setengah abad bahkan kurasa lebih.
“anakku
hilang, tadi dia disana pakai baju ungu tak pakai jilbab,” tiba-tiba
pandanganku tertuju pada seorang ibu yang berurai air mata, pasalnya anak perempuannya
hilang, lalu tak berapa lama terdengar dengan lantang MC menyuarakan berita
kehilangan itu, selang beberapa menit kulihat ibu itu tersenyum sumringah
dengan mengandeng anak perempuan berambut keriting, dia menggunakan baju ungu,
uhh lega rasanya anak ibu itu ternyata tidak hilang.
Puluhan
ribu umat dari berbagai sudut Riau mulai bergerak penuhi jalan, kibaran Aliwa
Aroya membanjiri jalanan, sorak sorai Takbir menguncang bumi lancang kuning,
subhanallah, opini umat telah tersalurkan saat itu, ku perhatikan kanan dan
kiriku, pandanganku terpaku pada seorang nenek renta dengan tongkat kayunya “
nek, masih kuat?,” tanyaku, “Masih nak, demokrasi itu memang harus dihancurkan
sehancur hancurnya, kita harus berjuang, Allahuakbar...,” jawabanya tak kusangka
menguncang hatiku sekaligus menyindir semangatku yang terkadang kendor .
subhanallah...
Semangatku
yang mulanya melemah karena panasnya mentari mulai terik, bibirku mulai kering,
dan kaki mulai sulit kugerakkan, tiba-tiba seperti ada energi baru menyambar,
dengan lantang kuteriakkan Allahuakbar... mengikuti arahan yel yel hingga akhir
perjalanan.
Sungguh,
ini hanya kepingan perjuangan Rasulullah dan sahabatnya, masihkah kita lemah
dan tiada semangat untuk terus merancang dan menjalan proyek ini? Renungkanlah saudaraku... #RapatdanPawaiAkbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar