Pages

Jumat, 16 September 2016

Proyek Syurga ( sepenggal kenangan RPA)



oleh : Juliana Dian Komala Sari
“besok ya kak kami daftar, ada sertifikatnya kak?,” hampir semua perkataan serupa ini yang kudapatkan kala brosur Rapat dan Pawai Akbar kuberikan pada setiap orang yang berlalu lelang di kampusku. Sertifikat?? Sangat memalukan, mahasiswa yang harusnya menjadi agen of change hanya menginginkan sertifikat?
Ada juga beberapa yang tampak antusias mendengarkan kala kujelaskan, adapula yang acuh tak acuh bahkan ada yang berkata kasar dan mengejek . uh kesal? Tentu, namun kembali kumelihat sirah perjuangan Rasulullah SAW, bukan hanya cemoohan yang beliau hadapi teteapi hujatan senjata yang beliau tantangi.
Telah berpuluh orang kutemui dan kukontak, namun tiada satupun yang tertarik untuk mengikuti agenda besar ini, maklum mahasiswa memang banyak yang apatis, sedih rasanya. Tapi suatu ketika saat perkuliahan libur kusempatkan waktu berkeliling kota pekanbaru dengan teman seperhalaqohanku, jam telah menunjukan pukul 12.00 namun belum ada satupun peserta yang kami dapatkan, akhirnya kami sepakat untuk beristirahat sambil menunggu zuhur di sebuah mesjid yang lumayan cantik, bersih dan cukup besar, jamaahnya juga ramai, tak hanya warga pekanbaru saja bahkan dari luar kota.
Selang beberapa menit setelah zuhur, kami mulai mendatangi satu persatu jamaah, ramah dan antusias yang kami dapatkan. 1,2,3,4,5, pancaran bahagia terpancar dari raut wajah kami saat kuhitung jumlah tiket yang telah bertuliskan nama peserta.
“buk, sedang apa? Maaf menganggu,” ujarku memulai pembicaran dengan seorang ibu yang kukira umurnya mencapai setengah abad, ia menggunakan kaos kuning lusuh, iapun tampak letih, dengan pelan ia menjawab “sedang istirahat nak, ibuk bawa anak lumpuh untuk ngemis,” ungkapnya miris. “ibuk tau khilafah? Khilafah itu sistem islam, seperti pada zaman rasulullah, kalau khilafah itu tegak tak ada lagi yang namanya pengemis, semuanya sejahtera, jadi kami dari hizbut tahrir indonesia, ada agenda besar buk, hari minggu disana nanti kita menyuarakan tegaknya khilafah..........,” bla bla bla, panjang lebar kujelaskan pada ibuk yang duduk di teras mesjid itu, ia tampak antusias lalu ia berkata “ibu harus kerja setiap hari nak, ibu cuman bisa do’akan acaranya sukses, supaya ibu nggak ngemis lagi,” katanya lemah.
Pukul 14.30 WIB, kami beranjak menuju Mesjid Agung An-Nur, dimana akan diadakan acara RPA, lagi-lagi kutemui seorang ibu paruh baya, dengan tatapan kosong ia memperhatikan anaknya yang berlari kesana kemari, kami datangi ibu itu, cerita punya cerita, ibu  itu merupakan seorang tukang parkir, ia telah lama ditinggalkan suaminya, anaknya 3 orang, SMA,SMP dan yang paling kecil SD. “kalau lagi suntuk, ibuk sering kesini, menghibur si kecil, kasian dia masih kecil hidup kayak gini,” ya Allah, teriris rasanya hati mendengar ocehan ibu ini, ku jelaskan juga tujuan kami, ibu ini juga antusia,namun karena pekerjaannya sebagai tukang parkir yang tak menentu membuatnya juga tak bisa hadir.
Hari-hari berlalu begitu cepat, H-1 tiba, kami berkumpul bersama syabab lainnya untuk melaksanakan Gladi bersih, semuanya berjalan lancar, tak sabar rasanya menanti esok hari.
Allahuakbar..Allahuakbar... riuh terdengar puluhan ribu umat menyuarakan takbir, orasi demi orasi tersampaikan dengan lancar, peserta benar-benar antusias. Jangan salah kaprah semangat yang bergelora bukan saja terpancar dari peserta remaja, tapi juga dari peserta yang sudah berumur setengah abad bahkan kurasa lebih.
“anakku hilang, tadi dia disana pakai baju ungu tak pakai jilbab,” tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang ibu yang berurai air mata, pasalnya anak perempuannya hilang, lalu tak berapa lama terdengar dengan lantang MC menyuarakan berita kehilangan itu, selang beberapa menit kulihat ibu itu tersenyum sumringah dengan mengandeng anak perempuan berambut keriting, dia menggunakan baju ungu, uhh lega rasanya anak ibu itu ternyata tidak hilang.
Puluhan ribu umat dari berbagai sudut Riau mulai bergerak penuhi jalan, kibaran Aliwa Aroya membanjiri jalanan, sorak sorai Takbir menguncang bumi lancang kuning, subhanallah, opini umat telah tersalurkan saat itu, ku perhatikan kanan dan kiriku, pandanganku terpaku pada seorang nenek renta dengan tongkat kayunya “ nek, masih kuat?,” tanyaku, “Masih nak, demokrasi itu memang harus dihancurkan sehancur hancurnya, kita harus berjuang, Allahuakbar...,” jawabanya tak kusangka menguncang hatiku sekaligus menyindir semangatku yang terkadang kendor . subhanallah...
Semangatku yang mulanya melemah karena panasnya mentari mulai terik, bibirku mulai kering, dan kaki mulai sulit kugerakkan, tiba-tiba seperti ada energi baru menyambar, dengan lantang kuteriakkan Allahuakbar... mengikuti arahan yel yel hingga akhir perjalanan.
Sungguh, ini hanya kepingan perjuangan Rasulullah dan sahabatnya, masihkah kita lemah dan tiada semangat untuk terus merancang dan menjalan proyek ini? Renungkanlah  saudaraku... #RapatdanPawaiAkbar


Rabu, 16 Maret 2016

Hanya Islam!


Oleh : Juliana Dian Komala Sari
Kekuatan umat Islam berdiri atas agama Islam itu sendiri. Namun dapat kita lihat bahwa fakta menunjukan umat Islam itu sangat apatis terhadap Islam itu sendiri, mereka seakan membebek keperadaban asing yang jauh dari Islam dihadapannya. Islam menjadi runtuh dan kemungkaran berkembang dengan pesat. Hal ini sudah menjadi rahasia umum, bahkan itu menjadi sebuah hujan keberkahan bagi musuh-musuh Islam. Karena dengan itu mereka tahu bahwa Islam itu sangat mudah dilemahkan jika penganut-penganutnya mampu mereka bawa kejalannya. Namun umat islam akan sangat bias di dilemahkan jika mempunyai keimanan yang kuat. Karena kebangkitan umat islam itu didasari oleh tiga pilar penting yang harus ada yaitu individu yang bertakwa, masyarakat yang berdakwah dan negara yang bersyariah.
Jika semua itu mampu diwujudkan oleh umat Islam, maka peradaban Islam akan berkembang pesat. Dari sinilah mereka mulai mencari jalan dan bagaimana cara yang terbaik untuk melemahkan pemahaman umat Islam terhadap Islam itu sendiri. Mereka juga mencari cara memberi keraguan kepada kitab yang menjadi pegangan umat Islam yaitu Al-qur’an. Mereka juga memutar balikkan fakta sejarah islamiah melalui berbagai opini dan tulisan. sehinga generasi umat Islam menjadi ragu atas keontentikan agama Islam. Faktor yang menjadi mundurnya Islam yaitu karena sebagian umat Islam kurang memahami hakikat Islam itu sendiri. Padahal umat islam pernah mempunyai masa kegemilangan selama 13 abad di 2/3 dunia dan melahirkan sosok-sosok ilmuan yang saat ini masih menjadi rujukan oleh dunia.
            Kemunduran umat Islam tersebut banyak memotivasi gerakan-gerakan yang mencoba merobohkan Islam. Mereka mencoba memasukkan budaya-budaya mereka kedalam dunia umat Islam sehingga banyak umat islam yang terpengaruh dan mengikuti arus yang sesungguhnya mematikan peran Islam dalam kehidupan.
Tiga hari setelah sistem pemerintahan Islam yaitu khilafah berhasil diruntuhkan oleh penghianat Mustafa Kemal tepatnya 3 Maret 1924 di Tukri Ustmani, harian The Times pernah memuat tulisan seorang penulis Hindu yang menyatakan”sekarang Turki berubah dari pusat negara Islam yang memiliki pengaruh global menjadi sebuah negara Balkan yang tidak penting”. Apa yang diungkapkan penulis itu kini terbukti kebenarannya, lihatlah ketika fakta tak dapat dipungkiri bahwa umat muslim yang berada di negara Balkan seperti Bosnia Herzegofina dan Kosovo terkena konflik yang luar biasa. Lantas siapa yang bisa menyelamatkan mereka, ketika muslimah yang berada disana dinodai kesuciannya dan disiksa. Sungguh tiada biasa membantu bahkan yang paling miris adalah ketika pesawat-pesawat dari negeri muslim hanya bisa menghantarkan selimut, pakaian dan bahan makanan yang mungkin tak bermakna bagi mereka, bayangkan saja apakah terpikirkan untuk tertidur berselimut dengan badan yang penuh luka siksa?.
Tak hanya sampai disana, kaum muslimin dimanapun mereka berada merupakan sasaran empuk yang mudah diserang para antek kafir sejak keruntuhan khilafah 92 tahun yang lalu. Kaum muslim benar-benar terperosok, negerinya dipenuhi pertikaian, pertumpahan darah dan segala malapetaka, karena tidak ada perlindungan yang efektif. Masyarakat muslim sendiripun saat ini tidak lagi mampu mempresentasikan Islam itu secara nyata, mulai dari hukum, peraturan serta sistem pemerintahan yang digunakan sekarang muncul dari rahim ideologi selain Islam, yang tanpa sadar telah mengubah komitmen sebagai muslim menuju kejahiliyahan. Kapitalisme, demokrasi, nasionalisme merupakan pemikiran-pemikiran yang telah mengubah landasan hidup menjadi sekuler yang terang-terangan menjauhkan Islam sebagai landasan dalam kehidupan. Oleh karena itu pemerintahan seperti ini harus segera dihapuskan karena tidak sesuai dengan fitrah manusia kemudian lekas diganti dengan sistem pemerintahan Islam yaitu negara Khilafah.
Karena bangkitnya kaum muslim hanya akan terjadi jika kita kembali kepada penerapan Islam. Menjadikan Islam sebagai landasan perbuatan, hukum serta peraturan dalam kehidupan. Ketika Islam telah bangkit maka tak dapat kita pungkiri kebangkitan umat muslim akan semakin nyata. “wallahu’alam bi shawab



Elegi Waktu


bolehkah aku mengadu pada waktu
yang kiranya saat kutanya hanya
diam membisu?

jarak menapaki ribuan mil lautan air mata darah
dan terpaan ombak kelaparan.

anak-anak kami menangis, meratap
meminta setetes air susu yang telah mengering
tubuhnya bak tulang belulang
sudikah tangan menyapa mereka?

namun hanya kibasan halauan yang kami terima
dalam pelukan lirih, pedih..
telah melintang pukang menjajaki pulau demi pulau.

bilakah kami temui rumah seperti mereka?
berkasur empuk, berlantai marmer dan berdinding beton

bukan terkapung-kapung dalam sesak kapal papan
yang lapuk dan akan roboh
bukan juga pada tenda-tenda kumuh

kalian bilang, kami berbeda warna kulit, berbeda kewarganegaraan

tidak.. tidak, kami sama denganmu saudaraku
kami bersyahadat..
kami shalat.. sama denganmu

tiadakah hatimu terketuk melihat kami
dalam elegi waktu yang kian mengekang diri
semakin terkurung dalam bias air mata.

ini akibat sekat-sekat nasionalisme
yang mengoyak-ngoyak ikatan akidah
mencabik-cabik ikatan kemanusian

yang ada hanya pintalan permusuhan
dan jaitan derap tikaman huru hara perselisihan.

rangkullah kami teman, hanya belas kasih sayang
yang kami harap untuk lanjutkan kehidupan.



- Juliana Dian Komala Sari