bolehkah aku mengadu pada waktu
yang kiranya saat kutanya hanya
diam membisu?
jarak menapaki ribuan mil lautan air mata
darah
dan terpaan ombak kelaparan.
anak-anak kami menangis, meratap
meminta setetes air susu yang telah
mengering
tubuhnya bak tulang belulang
sudikah tangan menyapa mereka?
namun hanya kibasan halauan yang kami
terima
dalam pelukan lirih, pedih..
telah melintang pukang menjajaki pulau demi
pulau.
bilakah kami temui rumah seperti mereka?
berkasur empuk, berlantai marmer dan berdinding
beton
bukan terkapung-kapung dalam sesak kapal papan
yang lapuk dan akan roboh
bukan juga pada tenda-tenda kumuh
kalian bilang, kami berbeda warna kulit,
berbeda kewarganegaraan
tidak.. tidak, kami sama denganmu saudaraku
kami bersyahadat..
kami shalat.. sama denganmu
tiadakah hatimu terketuk melihat kami
dalam elegi waktu yang kian mengekang diri
semakin terkurung dalam bias air mata.
ini akibat sekat-sekat nasionalisme
yang mengoyak-ngoyak ikatan akidah
mencabik-cabik ikatan kemanusian
yang ada hanya pintalan permusuhan
dan jaitan derap tikaman huru hara
perselisihan.
rangkullah kami teman, hanya belas kasih
sayang
yang kami harap untuk lanjutkan kehidupan.
- Juliana Dian Komala Sari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar